Motivasi| Fotografi| Pengolahan produk| Tanaman Obat| Cerpen| Tafakur| Hitam putih

Senin, 01 Desember 2008

NASI ARUK DAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Terbitnya berita di beberapa harian lokal tentang polemik sebagian masyarakat di Bangka yang mengkonsumsi nasi Aruk, nampaknya dapat menjadi bahan kajian yang menarik. Polemik ini mungkin disebabkan karena masih banyak masyarakat kita yang kurang memahami nilai gizi sebuah jenis makanan secara keseluruhan. Selama ini wawasan tentang makanan hanya sebatas pada persoalan mahal dan murah, enak dan tidak enak, atau makanan hanya dipandang sebagai alat pengenyang perut semata. Bahkan belakangan makanan menjadi alat penentu prestise yang diidentikkan dengan status sosial di masyarakat.

Makanan sebaiknya tidak hanya dipahami dengan cara pendekatan tersebut. Lebih dari itu, pemahaman makanan sebaiknya menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif dan mendalam. Kita makan artinya kita memasukkan zat ataupun senyawa yang menjadi sumber energi bagi tubuh untuk bergerak, tumbuh dan melakukan kegiatan metabolisme serta menciptakan sistem imun yang berguna untuk melawan berbagai macam penyakit. Untuk itu, tubuh membutuhkan bermacam-macam nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta air. Komposisi nutrisi yang diperlukan tubuh per hari untuk dapat ”bekerja” optimal kira-kira 65 % karbohidrat, 20 % lemak dan 10 – 15 % protein dari menu sehari-hari. Untuk angka yang lebih tepat dapat mengacu pada Kep Men Kesehatan No 1593/MENKES/SK/XI/2005 tentang Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan untuk bangsa Indonesia.
Masing-masing jenis makanan memiliki kandungan nutrisi yang berbeda-beda. Ketika kita membeli telur misalnya, itu artinya sama kita membeli protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh dan menggantikan sel-sel yang rusak walaupun tentu saja sumber protein tidak hanya berasal dari telur saja melainkan dapat diperoleh dari jenis makanan lain baik hewani maupun nabati. Atau ketika kita membeli beras, itu artinya kita sedang membeli karbohidrat berupa pati yang dibutuhkan oleh tubuh untuk sumber energi. Walaupun secara umum karbohidrat dipahami sebagai nutrisi yang banyak dikandung oleh beras, namun sebenarnya karbohidrat juga dapat ditemui dalam berbagai jenis makanan lain seperti ubi kayu (singkong), ubi jalar, uwi, sagu, talas, gandum, kentang, jagung dan masih banyak lagi. Seberapa optimal nutrisi ini masuk ke dalam tubuh, itu tergantung pada seberapa baik pengolahan bahan makanannya.
Seperti disinggung pada awal tulisan ini, belakangan jenis makanan yang dikonsumsi menjadi alat pengukur prestise atau gengsi seseorang. Fenomena yang berkembang di masyarakat kita, mereka yang mengkonsumsi makanan pokok selain beras kerap kali diidentikkan dengan golongan masyarakat yang serba kekurangan. Kalau ada di masyarakat yang mengkonsumsi ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan talas misalnya untuk menggantikan beras, dengan serta merta kita ”mengkonotasikan” mereka sebagai masyarakat miskin. Tentunya konotasi seperti ini dapat menyesatkan karena pada gilirannya akan mengaburkan nilai makanan non beras di mata masyarakat awam karena kenyataannya makanan jenis non beras belum tentu tidak memiliki kandungan nutrisi sebaik beras.
Namun terlepas dari perdebatan yang mengkaitkan persoalan ini dengan persoalan ekonomi, konsumsi makanan pokok selain nasi sesungguhnya merupakan langkah yang bijaksana. Justru menurut penulis, ini merupakan gambaran masyarakat yang kreatif dalam menyikapi situasi, gambaran sebuah masyarakat yang mandiri dan mampu memanfaatkan kondisi alam dengan baik. Dengan beragamnya konsumsi makanan maka asupan gizi yang diperoleh tubuh juga akan makin beragam dan saling melengkapi.
Pada intinya, tugas berat pemerintah untuk melakukan diversifikasi pangan sebagai upaya mendukung ketahanan pangan tidak hanya berkutat pada usaha rekayasa diversifikasi produk makanan saja tetapi yang tak boleh terlupakan adalah bagaimana pemerintah mampu merubah ketegantungan masyarakat pada salah satu jenis makanan pokok saja.

Langkah pemerintah daerah dalam menskseskan ketahanan pangan harus lebih mneyeluruh , tidak hanya ditekankan pada sisi produsi (pencetakan lahan sawah baru, bantuan saprodi ataupun distribusi saja ), tetapi deversifikasi panganpun harus mendapat perhatian khusus.
Langkah masyarakat yang mengkonsumsi nasi aruk hendaknya dapat menjadi sindiran yang konstruktif bagi pemerintah daerah. Polemik yang justru menyiratkan bahwa pemerintah belum memiliki program yang bagus untuk mendukung ketahanan pangan nasional dari sisi diversifikasi pangan. Harusnya kasus ini dapat menjadi cermin, apakan pemerintah daerah benar-benar telah menaruh perhatian serius terhadap sektor ketahanan pangan nasional. Hal ini perlu dibuktikan dengan memberikan pembinaan yang lebih baik yaitu dengan memberikan tambahan ilmu yang sifatnya dapat memberdayakan potensi daerah untuk ketahan pangan, susuai dengan UU RI No 7 tahun 1996 tentang Pangan.
Bila dilihat dari kebutuhan beras setahunnya untuk penduduk Babel dengan populasi 1,067 juta jiwa sebesar 130 ribu ton beras, maka produksi beras di daerah ini hanya mampu memenuhi sembilan persen kebutuhannya saja, sehingga mengandalkan pada perdaganagan antar pulau. Seandainya distribusi Beras ke wilayah Babel karena sesuatu dan lain hal mengalami kendala dan masyarakat tidak siap, maka kelaparan yang di khawatirkan itupun tak ayal akan benar-benar terjadi.
Karena itu penulis memberi penghargaan yang setinggi-tingginya kepada masyarakat yang telah secara kreatif menggali potensi dilingkungannya untuk secara sadar atau tidak ”mengajari ” kita semua tentang pentingnya mengembangkan ketahanan pangan. Tentunya untuk kualitas kehidupan yang lebih baik, sekarang atau dimasa yang akan datang.

Read More......

Selasa, 11 November 2008

Guru (Oemar Bakri, Orang tua dan Lingkungan ku)

Guru adalah profesi yang mulia dan tidak mudah dilaksanakan serta memiliki posisi yang sangat luhur di masyarakat. Semua orang pasti akan membenarkan pernyataan ini jika mengerti sejauh mana peran dan tanggung jawab seorang guru . Sejak saya baru berusia 6 tahun hingga dewasa, orang tua saya yang merupakan seorang guru, selalu memberikan instruksi yang mengingatkan kami para anak-anaknya adalah anak seorang guru yang harus selalu menjaga tingkah laku agar selalu baik dan jangan sampai melakukan sebuah kesalahan . Seberat itukah, seharus itukah kami bertindak Lantas apa hubungan profesi orang tua dengan dengan anak-anaknya apakah hanya anak seorang guru yang harus demikian ?.

Sebenarnya menjaga sikap dan tindak tanduk positif itu tidak hanya tanggung jawab para guru dan keluarganya, tetapi semua orang, Guru yang selalu mengusahankan keluarganya menjadi garda terdepan dalam memberikan pendidikan dengan sebuah contoh, adalah cerminan komitmen dan pendalaman makna dari seorang guru. Sang guru harus berusaha agar keluarganya baik dan tidak korupsi agar ia dapat mengajari kepada murid-muridnya baik dan tidak korupsi, berusaha tidak berbohong agar murid-muridnya tidak menjadi pendusta.
Peran guru tidak hanya sebatas tugas yang harus dilaksanakan di depan kelas saja, tetapi seluruh hidupnya memang harus di dedikasikan untuk pendidikan. Tidak hanya menyampaikan teori-teori akademis saja tetapi suri tauladan yang digambarkan dengan perilaku seorang guru dalam kehidupan sehari hari.

Terkesannya seorang Guru adalah sosok orang sempurna yang di tuntut tidak melakukan kesalahan sedikitpun, sedikit saja sang guru salah dalam bertutur kata itu akan tertanam sangat mendalam dalam sanubari sianak.
Jika sang guru mempunyai kebiasaan buruk dan itu di ketahui oleh sang murid, tidak ayal jika itu akan dijadikan referensi bagi si murid tentang pembenaran kesalahan yang sedang ia lakukan.

Sepertinya filosofi sang guru ini layak untuk di jadikan filosofi hidup, karena hampir setiap orang akan menjadi seorang ayah dan ibu yang notabenenya merupakan guru yang terdekat bagi anak-anak penerus bangsa ini .
Akan sulit bagi seorang ayah untuk melarang anaknya untuk tidak merokok jika seorang ayahnya adalah perokok. Akan sulit bagi seoang ibu untuk mengajari anak-anak untuk selalu jujur, jika dirumah sang ibu selalu berdusta kepada ayah dan lingkungannya, atau sebaliknya.

Suatu siang saya agak miris melihat seorang anak SMP sedang asik mengisap sebatang rokok bersama adik kelasnya yang masih di SD, itu terlihat dari seragam yang dikenakan dan usianya memang terbilang masih anak-anak. Siapa yang harus disalahkan dalam kasus ini. Apakah sianak, sepertinya tidak adil kalau kita hanya menyahkan si anak saja, anak itu terlahir bagaikan selembar kertas yang masih putih, mau jadi seperti apa kelak di hari tuanya tergantung dengan tinta dan menulis apa pada selembar kertas putih itu . Orang pertama yang patut disalahkan mungkin adalah guru, baik guru yang ada di rumah ( orang tua ), di sekolah ( guru), atau pun lingkungannya.

Peran orang tua yang bertanggung jawab terhadap keselamatan anaknya tentunya tidak membiarkan anaknya terlena dengan fasilitas-fasilitas yang dapat menenggelamkan si anak, kontrol yang baik dengan selalu memberikan pendidikan moral dan agama yang baik diharapkan akan dapat membimbing si anak ke jalan yang benar, bagaimana orang tua dapat mendidik anaknya menjadi anak yang sholeh sedangkan orang tuanya jarang menjalankan sesuatu yang mencerminkan kesholehan, kemasjid misalnya.
Tidak mudah memang untuk menjadi seorang guru. Menjadi guru diharapkan tidak hanya didasari oleh gaji guru yang akan dinaikkan, bukan merupakan pilihan terakhir setelah tidak dapat berprofesi di bidang yang lain, tidak juga karena peluang. Selayaknya cita-cita untuk menjadi guru didasari oleh sebuah idealisme yang luhur, untuk menciptakan generasi penerus yang berkualitas.
Sebaiknya Guru tidak hanya dipandang sebagai profesi saja, tetapi adalah bagian hidup dan idialisme seorang guru memang harus dijunjung setinggi-tingginya. Idealisme itu seharusnya tidak tergantikan oleh apapun termasuk uang. Namun guru adalah manusia, sekuat-kuatnya manusia bertahan dia tetaplah manusia, jika terpaan cobaab itu terlalu kuat manusia juga dapat melakukan kesalahan.

Akhir akhir ini ada berita di media masa yang sangat meruntuhkan citra sang guru adalah berita tentang pencabulan terhadap anak didiknya. Kalau pepatah mengatakan guru kencing bediri murit kencing berlari itu benar, berarti satu orang guru melakukan itu berapa orang murit yang lebih parah dari itu.
Gejala-gejala ini telah menunjukan kebenarannya. Kita ambil saja kasus siswa mesum di taman sari, bukit dealova, dan Ayam kampus yang mulai marak di tambahlagi foto-foto syrur anak SMP jebus, ini menunjukkan bahwa pepatah itu menujukkan kebenarannya.

Kerja team yang terdiri dari orang tua ( sebagai guru dirumah), Guru di sekolah, dan Lingkungan ( sebagai Guru saat anak-anak bermain) harus di bentuk. diawali dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan guru di sekolah, pertemuan yang intensif antara keduanya akan saling memberikan informasi yang sangat mendukung bagi pendidikan si anak. Peran Lingkungan pun harus lebih peduli, dengan menganggap anak-anak yang ada dilingkungannya adalah tanggung jawab bersama, tentunya lingkungan pun akan dapat memberikan informasi yang benar kepada orang tua tentang tindak tanduk si anak dan kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangannya.
terlihat betapa peran orang tua sangat memegang peranan penting, setelah semua informasi tentang pertumbuhan anakya di dapat, orang tuapun harus pandai mengelola informasi itu dengan benar.
Terlepas dari baik buruknya seorang guru nampaknya filosofi seorang guru dapat dijadikan pegangan bagi kita semua terutama bagi para orang tua, mari kita bersama-sama untuk menjadi guru bagi anak anak kita yang selalu membei contoh kebenaran dan memberi dorongan untuk berbuat kebenaran. Sang guru bagi anak adalah Orang tua, guru sekolah dan lingkungan tempat ia di besarkan. Seandainya sang guru dapat memberi teladan yang baik mudah-mudahan anak-anak kita akan ada di jalan yang benar, semoga.

Read More......

Kamis, 30 Oktober 2008

Babel Archi 2010 "Antara Superman dan Power Ranger"

"Pembangunan pariwisata, bagaimanapun, tidak bisa menggunakan cara Superman,dimana hanya pemerintah yang memainkan peranan tunggal tanpa didukung oleh seluruh elemen masyarakat. Alih-alih cara Superman,pembangunan pariwisata seharusnya dilakukan dengan metode Power Ranger dimana kekompakan tim menjadi kekuatan utama."

Pemerintah Provinsi Bangka Belitung telah mencanangkan sebuah program besar untuk tahun 2010 yakni Babel Archi 2010, yang artinya pada tahun tersebut diharapkan terjadi peningkatan angka kunjungan wisatawan domestik maupun luar negeri ke Bangka Belitung. Menjadi harapan kita bersama tentunya, agar siapapun yang berada di luar Babel datang
berkunjung untuk menikmati kenyamanan, keindahan, dan pelayanan pariwisata di provinsi muda ini. Pada saat itu, seharusnya, segala kebutuhan para pelancong dapat dengan mudah terpenuhi sehingga semua wisatawan yang melancong ke Bangka Belitung dapat merasakan sensasi dan memiliki cita rasa wisata yang mempesona. Sah-sah saja sebetulnya kalau kita berangan-angan pariwisata Babel dapat dibandingkan dengan pariwisata pulau Bali yang saat ini menjadi primadona pariwisata nusantara. Tetapi tentunya cita-cita yang dibangun tidak hanya sebatas itu, Babel Achi 2010 harus mampu menjadi pemicu peningkatan kemakmuran masyarakat lokal dengan membuka peluang kerja yang seluas-luasnya .

Lantas, apakah cita-cita besar ini dapat terwujud? Sejauh mana masyarakat Babel saat ini memahami program pemerintah Babel Archi 2010 dan sejauh mana masyarakat mengambil peranan untuk mensukseskannya? Pertanyaan ini nampaknya harus terjawab dengan baik oleh seluruh stakeholder pariwisata sebelum memulai langkah besar memulai program tersebut.
Pembangunan pariwisata, bagaimanapun, tidak bisa menggunakan cara Superman, dimana hanya pemerintah yang memainkan peranan tunggal tanpa didukung oleh seluruh elemen masyarakat. Alih-alih cara Superman,pembangunan pariwisata seharusnya dilakukan dengan metode Power Ranger dimana kekompakan tim menjadi kekuatan utama.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia bekerja sama dengan LPPM UBB tentang potensi ekonomi derah/Baseline Economic Survey dalam rangka pengembangan komoditi unggulan usaha mikro, kecil dan menengah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan bahwa komoditas/produk/jenis usaha (KPJU) di bidang pariwisata yang ada di Babel, hanya hotel/penginapan yang masuk dalam KPJU unggulan, itupun masih di urutan ke 10 untuk KPJU unggulan lintas sektoral. Dengan fakta ini, bagaimana kita bisa mengharapkan Babel Archi 2010 akan berjalan dengan baik? Lalu bagaimana dengan persoalan infrastruktur, apakah sudah layak untuk mendukung program akbar Babel Archi 2010?
Data yang ada ini seharusnya menyadarkan kita bahwa sesungguhnya membangun pariwisata tidak cukup hanya dengan pencanangan semata ditambah dengan seremoni-seremoni belaka, lalu setelah itu selesai. Pawisata harus dipandang sebagai sektor industri yang melibatkan seluruh stakeholder, seluruh elemen. Peran serta masyarakat sangatlah
dibutuhkan, dan keberhasilan pariwisata Bangka Belitung pun dapat dilihat dari sejauh mana kesadaran masyarakat untuk ambil bagian, serta sejauh mana masyarakat dapat merasakan bahwa sektor pariwisata dapat membawa manfaat bagi diri dan keluarga mereka, terutama secara ekonomi. Atau lebih singkatnya, pembangunan pariwisata adalah kerja
tim, kerja cara Power Ranger. Dilihat dari sisi potensi, maka potensi yang dimiliki Bangka Belitung sangatlah luar biasa. Dengan sedikit sentuhan maka potensi pariwisata yang ada di Bumi Serumpun Sebalai ini sudah layak "dijual"
ke seluruh dunia. Namun demikian, untuk saat ini jangan terlalu bermuluk-muluk membandingkan pariwisata Babel dengan pariwisata Bali karena memang kita bukan bandingannya. Tapi biarpun saat ini kita kalah dalam beberapa hal tetapi kita tetap harus optimis karena kita juga memiliki potensi-potensi yang tidak kalah dari Bali. Untuk
"menjual" potensi itu kita hanya perlu mengemasnya dengan cara yang berbeda dari Bali agar daya tarik yang ditimbulkanpun akan lebih "menggigit".
Pariwisata adalah sektor jasa, dan jasa di sini identik dengan sebuah pelayanan. Sejauh mana pelayanan bagi para penikmat wisata terpenuhi dan kekecewaan dapat diminimalisir, maka sejauh itu pulalah pariwisata ini menjanjikan. Namun bukan lantas mengambil jalan pintas dengan membiarkan wisata beroma mesum bermunculan, dan ini tentunya akan
memberikan citra yang buruk bagi daerah.
Untuk menghindari terjebak dalam hal tersebut, nampaknya kita perlu memperluas sudut pandang kita bahwa pariwisata tidak harus disandingkan dengan hal-hal negatif. Pariwisata yang bersih dari segala yang berbau negatif tentu akan lebih bermanfaat bagi masyarakatnya. Memang tidak mudah, tapi tentunya bukan tidak mungkin. Satu lagi, walaupun kekhasan budaya yang kita miliki tidak sekental di Bali, namun kita tetap dapat mengeksplorasi seluruh potensi yang kita miliki. Banyak jenis pariwisata yang dapat dikembangkan di Bangka Belitung yang tentunya disesuaikan dengan keadaan alam dan masyarakat. Misalnya, kita dapat memulai dengan pengembangan wisata pendidikan (Bangka Belitung memiliki kekhasan kekayaan alam yang dapat digali untuk memperkaya wawasan ilmu pengetahuan), wisata alam,
wisata mancing, wisata sejarah, wisata religi, wisata bisnis dan lain-lain.
Target yang ditetapkan pun harus lebih bijaksana, artinya untuk target pengelolaan tahap pertama adalah para wisatawan lokal terlebih dahulu, hitung-hitung untuk mempersiapkan masyarakat atau sebagai pendidikan terhadap masyarakat sehingga masyarakat juga terlibat secara nyata. Setelah siap, baru tahap selanjutnya adalah peningkatan
kualitas dan memperbesar target sasarannya ke tingkat nasional dan akhirnya ke tingkat internasional. Tapi kalau memang kita sanggup ketiga sasaran pasar ini dapat digarap secara bersamaan. Jangan sampai terjadi pepatah yang mengatakan "satu turis Amerika kelihatan tetapi seribu turis lokal di Babel tidak kelihatan".

Kadang kadang saya mencoba berhitung-hitung dan membandingkan, berapa pendapatan pemerintah daerah yang didapat dari hotel sekelas Parai Beach Resort jika dibandingkan dengan yang didapat dari pantai tetangganya yaitu Teluk Limau, Tanjung Kelayang dan Pantai Matras. Kehadiran sebuat hotel berbintang mutlak sangat diperlukan untuk
pengembangan pariwisata, tetapi keberadaan hotel tersebut diharapkan dapat menjadi bapak angkat bagi usaha-usaha kecil (UKM) yang bergerak di sektor pariwisata. Tentunya pembangunan sektor pariwisata berbasis UKM dapat menjadi alternatif pilihan yang tepat. Untuk itu dibutuhkan perhatian dan peranan pemerintah untuk membina dan pengembangkannya, termasuk para pelaku pariwisata besar yang ada saat ini. Tinggal lagi pilihan kini ada di tangan pemerintah daerah, apakah untuk membangun pariwisata cukup dengan acara-acara seremonial saja atau dengan kerja keras menelurkan program-program yang kreatif dan brilian. (*)

Read More......

Selasa, 29 Juli 2008

Dak kawah Nyusah

Dak kawah nyusah”, sebuah kalimat yang akrab di telinga orang Bangka, bahkan sebagian orang mengatakan itu merupakan karakteristik orang Bangka. Selama ini istilah Dak Kawah Nyusah memiliki konotasi negatif, yakni menggambarkan sifat pemalas.
Tapi pernahkah kita melihat sikap “dak kawah nyusah” ini dari sudut pandang yang lain. Alih-alih menggambarkan sikap malas, Dak Kawah Nyusah menjadi refleksi dari sebuah kecerdasan peradaban, di mana masyrakatnya mampu lebih profesional, lebih sesuai dengan kata hati dan menjadi wujud dari sebuah kejujuran, keberanian dan ketegasan untuk mengatakan tidak.


Coba kita lihat apakah betul masyarakat Bangka itu malas. Penulis kira tidak. Justru sebaliknya, sebagai gambaran kita bisa melihat masyarakat petani (sekali lagi petani, bukan petani-petanian) di Bangka. Para petani itu sangat tekun menjalani tahap demi tahap proses penanaman hingga akhirnya memanen dan menjual lada hasil kebunnya, sejak membuka hutan, memancang patok, membuat lubang tanam, mencari junjung (tajar) untuk merambatkan pohon lada, dan memeliharanya hingga menghasilkan. Memelihara pohon lada layaknya memelihara seorang bayi yang sangat membutuhkan perhatian ekstra, sedkit saja salah perlakuan pertumbuhannya akan terganggu dan hasilnya kurang optimal. Kerja keras dan ketekunan para petani lada Bangka menyebabkan daerah ini menjadi sangat terkenal dengan kualitas lada muntok white pepper-nya. Kita juga bisa memotret realita bahwa desa-desa/kampung-kampung yang ada di Bangka hanya ramai pada hari Jumat saja, di hari-hari lain masyarakat lebih suka menghabiskan waktu mereka di kebun dan hari libur mereka hanya pada hari Jumat itu saja. Nah, dengan realita yang ada ini masihkah kita mengatakan bahwa orang Bangka ”dak kawah nyusah” alias malas?
Sebenarnya, menurut penulis, istilah ”dak kawah nyusah” lebih tepat diartikan sebagai sikap yang mampu memilah mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak perlu, atau merupakan sebuah wujud penempatan diri pada posisi, keahliannya dan keinginannya.
Misal, saya hobi olahraga sepak bola, kemudin saya mengajak teman saya yang hobinya memancing untuk ikut main bola. Tatkala saya mengajak teman saya untuk bermain bola, karena ia tidak menyukai dan tidak merasa nyaman bermain bola, maka ia akan bilang ”dak kawah nyusah along ku mancing ade men asele ” yang artinya tidak mau, lebih baik saya pergi memancing ada hasilnya, begitu juga sebaliknya.
Daka kawah nyusah juga merupakan perwujudan dari sikap toleransi dan tidak ingin mencampuri urusan orang lain, menurut penulis inilah kata kunci mengapa beragam etnis, suku bangsa dan agama di Bangka mampu hidup rukun dan damai dalam keselarasan harmoni. Bahkan kerukunan hidup masyarakat Bangka ini sempat menjadi sorotan di tingkat nasional karena di daerah ini orang-orang pribumi dapat hidup rukun dengan non pribumi (etnis China). Karena sikap dak kawah nyusah inilah orang-orang Bangka enggan merespon segala bentuk pemikiran yang bersifat provokatif.
Sekali lagi penulis hanya mencoba mengajak pembaca untuk melihat kondisi ini dari sudut pandang lain yang tentunya lebih positif. Menurut riset, ketika kita berpikir positif maka seluruh atmosfir bumi akan merespon dengan aura dan energi yang positif pula. Jangan sampai konotasi negatif yang diidentikkan dengan istilah Dak kawah nyusah justru melemahkan eksistensi orang-orang Bangka itu sendiri. Semoga saja dengan konotasi positif yang dimunculkan dari istilah tersebut dapat membawa orang Bangka tampil dengan kepercayaan diri yang penuh yang sesuai dengan jati dirinya.
Sesuatu yang positip tentu akan selalu membawa kebanggaan. Dan kini sudah waktunya orang Bangka merasa bangga pada daerahnya sendiri, termasuk pada seluruh budaya yang tercakup di dalamnya.
Dan semoga kata-kata Dak kawah nyusah tidak menjadi jawaban atas ajakan-ajakan positip seperti misalnya yok kite bangun bangka. Jangan sampai hal seperti itu menjadi sebuah pembenaran atas konotasi negatif yang selama ini melakat pada istilah dak kawah nyusah.

Read More......

Minggu, 20 Juli 2008

Peduli Publikasi dan Sosialisasi

Keberadaan sebuah perguruan tinggi sangatlah penting dalam menunjang kemuajuan sumber daya manusia. Perguruan tinggi yang bermutu adalah harga mati bagi setiap lulusan smu/sederajat yang ingin melanjudkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan ini hampir setiap perguruan tinggi melakukan langkah – langkah yang menunjang terbentuknya kualitas yang baik .
Universitas Bangka Belitung contohnya, memang usia masih muda tapi pemikirannya dewasa. Banyak langkah-langkah yang telah diambil guna mewujudkan mutu yang baik. Dari peningkatan SDM para dosen, penyusunan kurikulum yang unggul, menyediakan sarana prasarana yang baik sampai dengan pembimbingan mahasiswa yang terencana. Para alumninya yang sudah dapat berkiprah di dunia kerja dan dapat bersaing dengan alumni dari perguruan tinggi lainnya, tentunya ini merupakan sisi keunggulan dari UBB.
Pada perkembangannya di sela-sela keoptimisan ini juga tidak sedikit yang pesimis setelah melihat proses percepatan ini menghadapi rintangan-rintangan yang memang membuat para personil pendukung universitas ini menjadi kelelahan.
Terlepaas dari itu semua kenyataan menunjukkan bahwa membangun sebuah visi yang revolusioner ini memang tidak lah mudah, “ Unggul membangun peradaban” adalah kalimat yang dipilih untuk menggambarkan sebuah visi UBB, sehingga dibutuhkan kemauan yang kuat dan keikhlasan dalam mewujudkannya.
Perlu sebuah kerja keras, kekompakan di antara para pimpinan, dosen, staf dan Mahasiswa serta stakeholder, dalam nuansa kekeluargaan yang harmonis. Layaknya sebuah keluarga tentunya tidak terlepas adanya perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat itu merupakan cerminan UBB yang dinamis dan hendaknya dapat memberikan sebuah kemajuan yang dinamis pula. Pendapat boleh berbeda tetapi Visi tetap sama.
Setelah berkembang dengan baik, tentunya UBB juga perlu bersosialisasi dengan masyarakat sebagai stakeholder, ini merupakan wujud dari pelaksanaan tri darma perguruan tinggi tentunya termasuk UBB. Besosiallisasi tidak hanya berfokus pada kegiatan yang menghasilkan uang saja, tetapi juga harus dalam pemaknaan yang lebih luas lagi. Bayak permasalahan – permasalahan baik di negeri serumpun sebalai ini maupun Indonesia pada umumnya yang membutuhkan pemikiran dan saran dari UBB.
Melihat dinamika dari Universitas yang masih muda ini ternyata banyak sekali kegiatan yang telah dilakukan, Cuma masalahnya adalah publikasi dan sosialisasi dari kegiatan tersebut masih sangat rendah. Masing – masing Fakultas , UPT lembaga dan Biro belum memanfaatkan media-media yang ada baik media Koran maupun elektronik terutama web site ubb.ac.id ataupun metode publikasi lainnya secara optimal. Wajar jika masyakat kita sedikit yang mengerti ternyata ada program studi terbaik se Indonesi di UBB, ada dosen teladan di UBB, ada penemuan yang bermanfaat di UBB, dan lain-lain. Wajar pula jika masyarakat akhirnya masih ragu-ragu apa betul universitas ini memang sangat menjanjikan bagi anak anak mereka nantinya. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan sedikit himbauan . Mari peduli terhadap publikasi dan sosialisasi UBB, sehingga masyarakat lebih mengerti tentang apa yang telah di lakukan UBB, dan UBB pun mengerti apa yang di butuhkan masyarakat. Mudah mudahan kedepan Universitas ini terus dapat menunjukkan kelasnya dan dapat memberikan solusi dari permasalahan yang ada . Universitas Bangka Belitung Unggul Membangun Peradaban.

Read More......